Kamis, 10 Maret 2022

Filo(kopi) Sopi


"Kalau minum kopi itu dibayar, mungkin gue udah bisa beli pulau sekarang"
- Saya alias guweh

Kopi mungkin salah satu minuman yang paling populer di dunia saat ini, selain air putih, susu juga sih, oiya ada teh juga, sama air zam-zam juga, air conditioner juga, ah pusing pala sergio! Pokoknya siapa sih di dunia ini yang nggak tau kopi, karena literally dimanapun tempatnya, pasti kita bisa nemuin kedai kopi, ya minimal poto kopi lah.

Kalian kira ini postingan bahas kopi ya? SALAH (bacanya: salah besar), itu tadi sebuah kalimat pengantar pamungkas yang gue susun untuk membahas tentang dunia perpotokopian.

Why fotokopi? karena ini bahasan yang amat menarik menurut gue, di belahan dunia mana (selain Indonesia) yang hingga saat ini masih pake itu mesin fotokopi. Gue mikir, ini jangan-jangan alat ini memang diciptakan hanya untuk masyarakat Indonesia? alias dimanapun anda berada, tempat fotokopian pun ada, bahkan di desa, mungkin kalau ada mesin fotokopi yang tahan air, di bawah laut pun buka tempat fotokopi, aneh gitu...

Aneh banget, di zaman teknologi modern, apa-apa online, masih aja apa-apa kudu fotokopi ini fotokopi itu, berapa lembar, depan belakang, rangkap satu, rangkap dua, lempar rangkap... Kayak, why?? buat apa KTP lo dikasih embel-embel "electronic" kalo ujung-ujungnya masih disuruh fotokopi juga. Itu pemikiran gue sampai sebulanan lalu. Hingga suatu ketika gue menemukan berita mencengangkan yang mengatakan bahwa ternyata mesin fotokopi itu harganya mahaaaalllll banget, jutaan iya, ada sih yang ga nyampe 10 juta, tapi ada yang harganya sampe 60 juta!!! udeh gile...

Salah satu alasan kenapa usaha fotokopi masih laku aja sampe sekarang ya karena itu tadi, alatnya mahal, jadi yang instansi-instansi itu tuh, ya u know lah, makanya doi masih apa-apa fotokopi dulu. Terus apa coba, gue nemuin lagi nih berita yang cukup membuat bulu mata gue pengen copot, katanya pemerintah, alasan kenapa sampai sekarang masih pakai fotokopi yaitu "BIAR DATANYA AMAN DAN TIDAK BISA DI-HACK"

Okey...

Dari sini mungkin masih masuk akal sehat, kalau dokumen yang dicetak emang gabisa di-hack, tapi... emang gaperlu di-hack buat tau dokumen penting, cukup beli gorengan aja, dari rapot, soal UN, dan rahasia negara lainnya bakal dengan mudah ditemukan, inti rahasia dari sistem konvensional ini adalah tukang gorengan.

Kalau di 2022 ini masih ada orang yang pake tebak-tebakan kopi kopi apa yang keras, terus jawabnya fotokopian, semoga daging rendang di piringmu lengkuas semua!!!

Oke, kembali ke topik, sebenernya gue gapunya masalah pribadi sama dunia perpotokopian, gue suka fotokopi, gue suka nyium fotokopian, eeee maksudnya bau hasil fotokopian, seperti halnya bau bensin, duit, dll. Cuma gue bingung aja, mau sampai kapan ya budaya fotokopi ini? karena jujur kadang fotokopi itu ngeselin, dalam artian kudu fotokopi ini itu dulu sebelum ngurus-ngurus di instansi. Ribet aja gitu, toh dalam KTP kita juga ada sim-nya kan, yang gue kira dulu gue gaperlu ngurus sim lagi karena KTP gue udah ada sim-nya meskipun akhirnya gue salah karena ternyata beda sim.

Kadang gue juga aneh aja pas ngeliat ada kampanye save earth ala-ala pecinta lingkungan yang diprint terus difotokopi terus ditempel di pohon-pohon atau dinding jalan. Ini mungkin analoginya sama kaya bapaknya gen Halilintar kampanye program KB, 2 anak cukup, tapi nilai cukup mah C, saya maunya A, sangat baik.

Tapi sebagai mahasiswa, fotokopian itu bener-bener menolong, apalagi kalo pas mau ujian, materi dari dosen paling enak dibaca kalo udah diprint sama difotokopi, entah kenapa lebih cepat nempel materi-nya, apa jangan-jangan ini strategi yang dipakai sama penduduk atlantis dulu ya biar pada pinter? sampai akhirnya mereka tenggelam dalam kertas fotokopiannya sendiri? hmmm menarik.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada komentar yang ngucek-ngucek pikiran?? keluarin aja, tapi jangan lewat kentut. Tulis aja komentar kalian di sini. Komen Joss!! komentar harus ngotot, ngotot harus komentar.