Selasa, 15 Maret 2022

Gatau Judulnya Apa

Hidup adalah privilege terbesar bagi seorang manusia

Terkadang sebagai manusia kita buta
Memilih untuk tidak melihat terhadap hal-hal yang sebenarnya jelas di depan mata
Kita terbutakan dengan keinginan, angan-angan, impian, tekanan?

Padahal yang lebih dari itu semua adalah kehidupan
Seperti apa itu kehidupan?
Apakah itu merupakan keinginan terbesar bagi kerikil dan bebatuan
atau angan-angan  dari sebuah dahan?

Kesempatan seperti apa sebenarnya kehidupan ini?
Harusnya diapakan kehidupan ini?
Kesempatan untuk beribadah?
Beribadah?
Dah.

Selesai.

Kamis, 10 Maret 2022

Filo(kopi) Sopi


"Kalau minum kopi itu dibayar, mungkin gue udah bisa beli pulau sekarang"
- Saya alias guweh

Kopi mungkin salah satu minuman yang paling populer di dunia saat ini, selain air putih, susu juga sih, oiya ada teh juga, sama air zam-zam juga, air conditioner juga, ah pusing pala sergio! Pokoknya siapa sih di dunia ini yang nggak tau kopi, karena literally dimanapun tempatnya, pasti kita bisa nemuin kedai kopi, ya minimal poto kopi lah.

Kalian kira ini postingan bahas kopi ya? SALAH (bacanya: salah besar), itu tadi sebuah kalimat pengantar pamungkas yang gue susun untuk membahas tentang dunia perpotokopian.

Why fotokopi? karena ini bahasan yang amat menarik menurut gue, di belahan dunia mana (selain Indonesia) yang hingga saat ini masih pake itu mesin fotokopi. Gue mikir, ini jangan-jangan alat ini memang diciptakan hanya untuk masyarakat Indonesia? alias dimanapun anda berada, tempat fotokopian pun ada, bahkan di desa, mungkin kalau ada mesin fotokopi yang tahan air, di bawah laut pun buka tempat fotokopi, aneh gitu...

Aneh banget, di zaman teknologi modern, apa-apa online, masih aja apa-apa kudu fotokopi ini fotokopi itu, berapa lembar, depan belakang, rangkap satu, rangkap dua, lempar rangkap... Kayak, why?? buat apa KTP lo dikasih embel-embel "electronic" kalo ujung-ujungnya masih disuruh fotokopi juga. Itu pemikiran gue sampai sebulanan lalu. Hingga suatu ketika gue menemukan berita mencengangkan yang mengatakan bahwa ternyata mesin fotokopi itu harganya mahaaaalllll banget, jutaan iya, ada sih yang ga nyampe 10 juta, tapi ada yang harganya sampe 60 juta!!! udeh gile...

Salah satu alasan kenapa usaha fotokopi masih laku aja sampe sekarang ya karena itu tadi, alatnya mahal, jadi yang instansi-instansi itu tuh, ya u know lah, makanya doi masih apa-apa fotokopi dulu. Terus apa coba, gue nemuin lagi nih berita yang cukup membuat bulu mata gue pengen copot, katanya pemerintah, alasan kenapa sampai sekarang masih pakai fotokopi yaitu "BIAR DATANYA AMAN DAN TIDAK BISA DI-HACK"

Okey...

Dari sini mungkin masih masuk akal sehat, kalau dokumen yang dicetak emang gabisa di-hack, tapi... emang gaperlu di-hack buat tau dokumen penting, cukup beli gorengan aja, dari rapot, soal UN, dan rahasia negara lainnya bakal dengan mudah ditemukan, inti rahasia dari sistem konvensional ini adalah tukang gorengan.

Kalau di 2022 ini masih ada orang yang pake tebak-tebakan kopi kopi apa yang keras, terus jawabnya fotokopian, semoga daging rendang di piringmu lengkuas semua!!!

Oke, kembali ke topik, sebenernya gue gapunya masalah pribadi sama dunia perpotokopian, gue suka fotokopi, gue suka nyium fotokopian, eeee maksudnya bau hasil fotokopian, seperti halnya bau bensin, duit, dll. Cuma gue bingung aja, mau sampai kapan ya budaya fotokopi ini? karena jujur kadang fotokopi itu ngeselin, dalam artian kudu fotokopi ini itu dulu sebelum ngurus-ngurus di instansi. Ribet aja gitu, toh dalam KTP kita juga ada sim-nya kan, yang gue kira dulu gue gaperlu ngurus sim lagi karena KTP gue udah ada sim-nya meskipun akhirnya gue salah karena ternyata beda sim.

Kadang gue juga aneh aja pas ngeliat ada kampanye save earth ala-ala pecinta lingkungan yang diprint terus difotokopi terus ditempel di pohon-pohon atau dinding jalan. Ini mungkin analoginya sama kaya bapaknya gen Halilintar kampanye program KB, 2 anak cukup, tapi nilai cukup mah C, saya maunya A, sangat baik.

Tapi sebagai mahasiswa, fotokopian itu bener-bener menolong, apalagi kalo pas mau ujian, materi dari dosen paling enak dibaca kalo udah diprint sama difotokopi, entah kenapa lebih cepat nempel materi-nya, apa jangan-jangan ini strategi yang dipakai sama penduduk atlantis dulu ya biar pada pinter? sampai akhirnya mereka tenggelam dalam kertas fotokopiannya sendiri? hmmm menarik.

Senin, 07 Maret 2022

Suka J-POP tapi bukan Wibu

Selera musik manusia memang berbeda-beda, ada yang sukanya dengerin lagu-lagu pop, ada juga yang suka jazz, ada yang suka rock, atau lagu-lagu indie yang lagi nge-trend belakangan ini. Jujur gue gapunya preferensi musik yang gue suka, semua tergantung sama mood, keadaan, situasi, kondisi, peradaban, dan daya juang (apasih?!). Oke lupakan, maksudnya adalah selama lagu nya ear catching dan enak didenger, bakal gue dengerin, bahkan lagu-lagu mars organisasi wkwkwk, ini beneran lho.

Salah satu genre musik yang suka gue dengerin adalah J-POP, dari namanya aja udah jelas ya kalau genre ini merupakan genre musik yang berasal dari sebuah negara yang huruf depannya J...

 Kalau ada yang mikir Jerman, baku hantam kita sini!1!1

Ya, betul, negara itu adalah Jepang. genre J-POP ini unik menurut gue karena lebih mengeksplor nada dengan variasi yang enak didenger. Selain itu juga umum nya punya bit irama yang lumayan energik, jadi cocok didengarkan saat belajar atau pas mau nguli. Dijamin proses pengerjaan rumah anda lebih cepat 30% jika kuli bangunannya sambil dengerin lagu-lagu J-POP

Umumnya lagu-lagu J-POP ini populer karena jadi Original Soundtrack-nya kartun jepang, atau yang lebih dikenal masyarakat dunia dengan anime. Sehingga memang umumnya penggemar genre ini merupakan makhluk-makhluk pecinta anime atau yang biasa disebut sebaga wibu. Sebenernya diksi "wibu" ini entah mempunyai makna positif atau negatif ya, karena kalau dibilang positif juga banyak ditemukan kelakuan para wibu yang abnormal, kalau dibilang negatif juga... ada banyak komunitasnya, berarti kan ngga dikit yah. Ya selagi nggak merugikan orang lain sih gue ngga peduli ya, kecuali kalau suatu saat wifi gue lemot karena dipake buat donlod anime 3 GB pake internet download manager. Kalau itu sih layak digebuk ya.

Oke kembali lagi ke topik awal, gue suka genre J-POP, gue juga suka ayam pop, kalo tiap pagi gue juga suka pop di toilet. Meskipun harus ada effort untuk menghafalkan liriknya, paling tidak biasanya nadanya gampang diikuti. Kalau dulu pas gue di asrama mungkin agak sulit ya karena dengerin lagu lewat MP3 Player, dan kudu ngeprint itu liriknya, sedangkan sekarang kan bisa langsung liat liriknya di youtube atau bisa langsung search liriknya. Tapi band Indonesia ada juga lho yang beraliran J-POP, pasti kalian tau ini band nya karena memang cukup terkenal di 2000an, yaitu band J-Rocks, dari namanya aja udah J-POP banget, tapi mungkin yang ini huruf "J" nya berasal dari Jakarta atau Jepara.

Kalau ada yang mikir Jerman lagi serlok sini!1!1

Gue tulis postingan ini karena gue lagi-lagi keracunan salah satu lagu J-POP yang sebenernya mungkin nggak baru, tapi gue baru denger ini lagu di live streaming salah satu streamer, kayak waw ini lagu enak banget asli. Judulnya Ame no Yume no Nazotte yang dipopulerkan sama Yoasobi, buat para pendenger lagu-lagu jepang mungkin ga asing sama ni orang karena emang lagu-lagunya enak-enak, dan nadanya mirip-mirip hehehe, gue berprasangka jangan-jangan semua lagunya diciptakan dalam suatu momen, dipisah-pisah aja wkwkwk

Beneran sampe gue rela dengerin lagunya di youtube berkali-kali sampai nyetel 1 hour loop lagu nya. Belum lagi gue juga nyetel di discord dan nyanyiin itu lagu alias karaokean berjam-jam, bukannya skripsian malah karaoke, huft, dasar! Coba deh kalian dengerin lagunya, asli enak, apalagi buat nemenin belajar atau kerja gitu.

Oiya, satu lagi yang bikin gue jatuh cinta sama lagu-lagu jepang adalah artinya yang punya makna deep serta penggunaan idiom-idiom yang keren (buat yang nggak tau idiom itu semacam istilah atau penggambaran atau analogi gitu deh). Gampang nya lirik-liriknya udah kayak puisi gitu, mungkin berbeda sama lirik-lirik lagu pop lokal yang biasanya langsung bablas aja kalo cinta bilang cinta gitu. TAPI, gue nggak setuju sama yang nyanyiin lagu-lagu jepang tapi pake bahasa non-jepang, NGGAK BANGET, jatuhnya maksain, emang udah bablas aja gitu emang udah bahasa sehari-hari kita, jadi ya enak gitu buat didenger. Tapi itu cuma opini gue aja, karena emang aneh aja kedengerannya.

Tapi balik lagi, musik itu masalah preferensi, tiap orang punya preferensi yang beda-beda, tapi kalau ada yang suka ngedangdutin lagu jepang, GAUSAH DITEMENIN!!!