Ada yang tau
tentang demografi?? Santai.... santai.... ini bukan ilmu atau adab sopan santun
waktu demo. Jadi siang ini ceritanya hujan dan gue dapet tugas geografi, terus
diposting di blog. Sebenernya ini agak melenceng dari tema blog gue sih. Tapi apa
daya, tai kucing rasa cokelat. Itu tai apa cokelat, ya?? Bedain tai kucing sama
cokelat aja susah. Wah, pantesan kemaren gue nemuin ada chunky bar di tengah
jalan.
Itu bukan saya yang
nulis, Zah. Beneran, ini tadi jari saya yang nakal, tiba-tiba ngetik “tai”
gitu. Jari saya memang nakal, kadang suka masuk hidung, terus mengorek segala
kekayaan yang terpendam di hidung saya.
Oke, kayaknya udah
terlalu jauh ngaconya. Hari ini gue lagi sekolah di SMA SMART 1 Bogor. Gue disuruh nyari sebuah artikel tentang demografi. Terus
apa yang gue lakukan?? Yak!! benar, gue
masuk ke dalam kelas. Karena dari tadi gue duduk di depan kelas, sambil mainan
leptop. Mirip kayak pengemis di masa yang akan datang.
Gue cari dan terus
mencari. Mendaki gunung, lewati lembah, berenang melintasi samudera, ketemu
Deni manusia ikan, dan akhirnya gue dapet. Bukan, gue cowok, nggak mungkin gue
dapet. Jadi gue nemu sebuah artikel yang menarik di www.bbc.com.
Setelah gue baca
dengan posisi yang enak (ya, jongkok), ini nih yang masuk otak gue:
1. Tingginya angka
kematian bayi di Papua.
2. Karena terlalu
tinggi, jadi dibutuhkan tangga kalo mau metik buahnya (lupakan yang ini).
3. Angka kematian
bayi di Papua tiga kali lipat dibandingkan Jakarta.
4. Indonesia kini
mencatat 27 kematian bayi per 1000 kelahiran. (siapa yang nyatat?)
5. Tingginya angka
kematian di pelosok.
6. Banyak yang
meninggal karena kekurangan gizi kronis (setahu gue, yang ada itu brownis).
Ternyata mengejutkan
ya. Kasihan bayi-bayinya, mereka belom pernah main ps. Eh, maksud gue, belom
lama ngerasain kasih sayang orang tuanya. #BiarKeliatanKayakPsikolog
Kira-kira kenapa
bisa gitu ya?? Banyak faktornya, bisa jadi karena faktor lingkungan. Karena mereka
tinggal di pelosok, kemungkinan mereka tinggal di lingkungan yang nggak layak. Bisa
juga karena faktor asupan gizi, karena mereka tinggal di pelosok, jadi
kebutuhan gizi mereka tidak tercukupi. Padahal seharusnya gizi mereka dapat
tercukupi karena sangat berpengaruh untuk kehidupan mereka.
Tapi, katanya
pemerintah akan berusaha menurunkan angka kematian bayi ini. Dan tentunya
pemerintah nggak bisa ngelakuin semuanya sendiri, butuh bantuan dan aspirasi
dari rakyat. #SokBijak
Nah, jujur
sebenernya ini doang ini postingan yang
ini. Karena salah satu syarat tulisannya itu minimal 400 kata, makanya gue
tambahkan paragraf yang ini. Oiya, karena udah lama nggak ngeblog, gue ngerasa
punya utang sama pembaca-pembaca blog gue, jadi hari ini gue akan memposting 3
postingan. Masih ada 2 postingan request lagi. Ye a yaw!!!!

beberapa kali dapat cerita tentang daerah pelosok, apalagi pernah KKN ke daerah pelosok meskipun masih di pulau Jawa. Angka kematian bayi lebih banyak karena gizi buruk, kasihan banget .____.
BalasHapus